Archive for January, 2008

Saturday, January 26th, 2008

THE INVASION

Theinvasionposter425gif

Sepertinya film bertema ‘Alien’ masih menempati tempat tersendiri di hati para penonton alias masih di gemari.  Baik Alien yang berbentuk menyeramkan atau Alien yang merasuk ke dalam diri manusia dan membuat mereka tampak beda.  Tidak jarang film2 yang bertemakan Alien versi kedua menampilkan sebuah perbaikan dalam suatu komunitas manusia yang tadinya komunitas berandalan, tiba2 menjadi komunitas yang adem ayem bahkan jadi genius.  Memang dengan adanya ‘Alien’s Invasion’ dunia bisa menjadi damai.  Tapi apakah itu yang kita inginkan ?? Kehilangan jati diri kita ??

Jatuhnya sebuah ‘Space Shuttle’ yang misterius ternyata membawa dampak yang sangat menyeramkan.  Orang2 yang mengadakan kontak langsung dengan benda tersebut akan berubah menjadi ’sesuatu’.
Carol Bennell (Nicole Kidman) dan temannya Dr. Ben Driscoll (Daniel Craig) menyadari ada yang tidak beres dengan orang2 di sekitar mereka.  Mereka meneliti dan ternyata semua perubahan ini adalah ulah Alien dan mencoba mencari jalan keluar yang ternyata terdapat  pada anak dari Carol.  Mereka akan berubah kalau mereka tidur dan Carol berusaha setengah mati agar tidak terlelap sedangkan dia harus berjuang mencari anaknya yang berada ditangan ayahnya yang sudah berubah menjadi ‘orang lain’.

I love this kind of movie..film2 yang bercerita tentang alien yang memasuki tubuh manusia dan seperti biasa..agar tidak tertangkap oleh mereka, jangan pernah sekali-kali menunjukkan emosi mu..sekali saja kau terlihat gugup, marah, sedih, dll. maka kau akan segera menjadi salah satu dari mereka..Di film ini ada adegan dimana seorang cewek yang sedang terluka tangannya dan cukup parah harus berakting tenang seolah-olah tidak terjadi apa2..OH MY GOD…!! RATING : * * *

Monday, January 21st, 2008

                                                         

  THE MIST

The_mist_movie_poster2Film ini memperlihatkan bagaimana hebatnya pengaruh seorang provokator yang dapat embuat orang2 di sekitarnya saling bermusuhan hingga terjadi pembunuhan yang sadis.  The Mist memang tidak bercerita tentang perjalanan seorang provokator, tapi menceritakan bagaimana orang2 menghadapi saat2 yang genting, situasi dimana nasib mereka berada di ujung tanduk dan harus pula menghadapi satu orang yang tidak bisa di ajak kerja sama, tapi justru memperkeruh suasana.

Suasana tenang di sebuah supermarket berubah menjadi ketegangan pada saat terdengar bunyi sirine peringatan yang diikuti oleh datangnya kabut tebal yang tiba2 memenuhi seluruh kota.  Situasi semakin mencekam di saat mereka melihat seorang bapak berlari-lari menuju supermarket sembari berteriak bahwa ada sesuatu di dalam kabut.  Setiap orang menunggu dengan was2 bagaimana dengan nasib mereka yang ’stuck’ di dalam supermarket.  Pada saat datangnya kabut, tiba2 terjadi gempa bumi dan menyebabkan keadaan di supermarket berantakan.  Setiap orang sibuk dengan urusan masing2, begitu pula David Drayton (Thomas Jane) berusaha menenangkan anaknya yang shok.  David pergi mencari selimut ke gudang belakang dan menemukan mesin generator sudah penuh asap.  Dia berusaha memperbaikinya tapi justru berakhir dengan listrik mati.  Belum selesai dengan urusannya, David harus menghadapi sesuatu yang lebih mengerikan.  ‘Sesuatu’ tersebut  mendobrak-dobrak pintu garasi dan David menyimpulkan bahwa ada sesuatu di luar sana yang pasti berukuran sangat besar.  David kembali dan mencoba memberitahukan hal ini kepada salah satu di antara mereka agar tidak terjadi kepanikan dan ternyata dia salah memilih orang.  Dia tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh David dan ingin membuktikan sendiri dengan berniat memeriksa keluar di antara kabut tebal.  Beberapa orang lain ternyata ikut mencuri dengar dan mereka akhirnya memeriksa bersama-sama.  Salah satu dari mereka harus keluar untuk dapat menjalankan generator.  Karena tak satu pun dari mereka percaya dengan perkataan David, maka dengan santainya mereka membuka pintu garasi.  Tiba2 muncul sebuah tentakel raksasa yang menarik kaki salah sau dari mereka yang berdiri di dekat garasi.  Satu korban telah jatuh dan sekarang tugas mereka memberitahu yang lain.  Meskipun ada beberapa saksi mata, tidak semuanya percaya dengan apa yang mereka katakan dan tetap ingin memeriksanya sendiri.  Tentu saja mereka tidak kembali, dan setelah ini barulah mereka semua dalam keadaan ’siaga 1′ dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi di luar sana……

Pokoknya nonton film ini siap2 mental aja ya..apalagi dengan si povokator yang super duper nyebelin..tapi jangan khawatir, dia akan ditembak mati oleh salah satu dari mereka yang tidak termakan omongannya..Berhubung nontonnya masih qualitas ‘bioskop’ (isinya bioskop juga masuk) jadi pas si provokator ini ditembak, orang2 seisi bioskop pada seneng n ada yang tepuk tangan dan ada yang bilang "Shoot her again!" n beneran ditembak lagi…sepertinya sang sutradara mengerti sekali perasaan penonton..Persiapan mental satu lagi untuk menghadapi endingnya (Ooooops…!!) Hehehe..film ini memang berakhir tragis, gak nanggung2 ‘BENER2 TRAGIS’…Dengan melihat endingnya, pasti akan terlontar: "Coba tadi dengerin apa kata si provokator…" NAH LHO…!?  RATING : * * * *

Friday, January 18th, 2008

                                             

  I AM LEGEND

Iamlegendbigposter

Seperti Resident Evil, I am Legend kembali mengangkat topik tentang sebuah virus yang dapat merubah manusia menjadi zombie.  Bedanya di film Resident Evil pembuatan virusnya sengaja dan bertujuan, sebaliknya di film ini.  Sesuatu yang awalnya untuk pengobatan berubah menjadi virus menyeramkan (kalo gak salah nangkep ya.. =p). 

Robert Neville (Will Smith) adalah satu2nya ’survivor’ di kota New York ditemani dengan anjingnya Sam yang setia dan sangat terlatih.  Robert dan Sam menjalani hari2 yang sama setiap harinya.  Menjelajah kota New York yang kosong di siang hari karena setelah matahari terbenam, New York akan dipenuhi oleh zombie2 yang penuh amarah dan kelaparan.
Setiap kali menjelajahi tiap2 sudut kota untuk mendapatkan persediaan makanan,dll, Robert selalu memasang alarm untuk mengingatkan bahwa ‘hari sebentar lagi akan gelap’ .  Sesampainya di rumah, dia mengunci pintu dan menutup jendela2.  Rumahnya pun sudah di buat sedemikian rupa hingga aman dari serangan zombie.  Hari2nya tidak dihabiskan hanya dengan mencari makanan di siang hari dan pulang sebelum hari gelap, Robert juga mengadakan penelitian di ruang bawah tanah yang sudah dirancang menjadi laboratorium pribadi.  Dia bekerja keras demi menemukan obat penangkal untuk virus yang telah memakan seluruh penduduk kota New York.  Dan setelah di uji coba dengan menggunakan tikus percobaan, nampak satu ekor tikus yang memperlihatkan tanda2 ‘tidak beringas’.  Segera dia mencobanya pada salah satu zombie dengan terlebih dahulu memasang perangkap.
Percobaan tidak menampakkan hasil yang memuaskan.  Hingga pada suatu hari, terbukti obat penemuan Robert bekerja.  Tapi semuanya sudah terlambat …….

Aku bener2 suka ama film ini, kayak film Resident Evil, nonton film ini berkali-kali pun rasanya gak bosen2 (tapi di kasih jangka waktu lah..)
Bisa tergolong film sepanjang masa, walaupun film ini sedikit tragis di akhir cerita.  Bahkan ada beberapa teman yang menganggap film ini kurang seru ‘ending’ nya..Tapi buatku I am Legend sudah masuk kategori ‘Masterpiece’ di blogspot ini… RATING : * * * * *

Wednesday, January 16th, 2008

P.S. I LOVE YOU

Ps_i_love_u
Jika ingin menikmati sebuah film yang dibuat berdasarkan sebuah buku (novel, komik, dsb) jangan pernah membandingkan film tersebut dengan bukunya.  Susah memang, karena orang cenderung berharap film tersebut benar2 sama dengan isi buku, belum lagi imaginasi2 yang sudah kita ciptakan sewaktu menikmati bukunya. 
Kalo mau menuruti isi buku beserta detailnya, mau abis berapa rol film? dan berdurasi berapa jam? sedangkan selama-lamanya sebuah film diputar paling lama sekitar 3 jam.  Jangan2 bisa jadi sinetron nanti.  Kesimpulan ini tercetus setelah nonton film P.S. I LOVE YOU.  Dibandingkan dengan bukunya banyak sekali bedanya, kecuali nama.  Banyak nama juga tidak segan2 ditiadakan di film, juga alur cerita yang berbeda di sana-sini.  Singkat kata, sepertinya sang sutradara hanya meminjam nama dan mengambil inti cerita dari novelnya yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah film yang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak memakan terlalu banyak rol film dan waktu namun inti cerita dapat tersampaikan.

Bercerita tentang kisah Holly (Hillary Swank) yang masih berada dalam suasana berkabung karena suaminya Gerry (Gerard Butler) baru saja meninggal karena tumor otak.  Di ultahnya yang ke 30, Holly tiba2 mendapatkan kiriman kue ultah yang berasal dari Gerry.  Pertama-tama Holly tidak percaya dan menanyakan kepada keluarga dan teman2nya apakah salah satu dari mereka yang merencanakan ini sampai dia menemukan sebuah tape kecil di balik kotak kue yang berisikan suara Gerry yang memberi tahu kepada Holly bahwa Holly akan menerima surat2 dari Gerry dan harus melakukan apa yang ada dalam surat tersebut.
Surat2 Gerry pun datang silih berganti mengisi hari2 Holly yng kosong dan setiap kali menerima dan membaca surat Gerry, Holly merasakan kembali kehadiran almarhum suaminya.  Akhirnya Holly dapat menjalani kehidupannya dengan bantuan surat2 dari Gerry, hingga tiba saatnya surat terakhir yang menyuruhnya untuk terus menjalani hidup dan merasakan jatuh cinta lagi.

Pertama kali lihat film ini rasanya terlalu melompat-lompat dari satu adegan ke adegan yang lain, karena imbas dari ‘membandingkan novel dan film’..Tapi kalo aku bilang sih nih film emang benar2 berbeda dari novelnya ..Paling yang diambil hanyalah nama dan surat dari ‘alam baka’..Walaupun di awal aku sudah menuliskan ‘jangan dibandingkan’ tapi mau gak mau orang2 akan menunggu-nunggu dan bertanya-tanya: "si ini dimainin ama sapa yah?"; "penasaran nih adegan ini ada gak yah?" dan berjuta-juta pertanyaan yang akan terlontar dari kita para penonton..Tak luput juga protes2 seperti "kok beda banget sih ama novelnya!"; "kok rumahnya beda kayak di novel!" ; "dia gak cocok tuh jadi peran si anu!"
SO… aku mengambil kesimpulan sendiri kalo menurutku lebih baik nonton film dulu baru baca novel/ bukunya ketimbang baca bukunya dulu baru nonton..Karena menurut pengalamanku dengan film ‘FREEDOM WRITERS’ , aku jadi suka dua2ny, ya film, ya buku…Na ja, orang punya persepsi masing2… RATING : ***